MASA KEEMASAN
(Prajurit Bayaran Transnasional)
Masa muda adalah masa keemasan..? siapa yang bilang, mungkin pemahaman kita kurang dalam memaknai kehidupan itu sendiri. Hidup adalah suatu kesempatan yang diberikan sang pencipta, dimana kita perlu dan patut mensyukurinya agar kelak kita bisa menikmati waktu dimana kehidupan setelah mati adalah yang abadi (hidup menuju mati dan mati menuju kehidupan yang abadi). Dimulai kita diberi kehidupan dan sepanjang hidup di dunia itulah masa dimana kita menikmatinya disamping kita bersyukur.
Sayang sekali kehidupan kita terutama masa muda kita telah teracuni oleh dunia yang tak bertanggung jawab. Mengapa demikian? Karena kita telah termakan oleh kesalahan yang telah dibenarkan oleh mereka (sebut saja negara-negara barat), dimana mereka menguasai berbagai sisi kehidupan kita yang sebenarnya kita tidak tersadarkan oleh hal tersebut, yang bila itu terus dibiarkan akan menghancurkan kita dibumi kita sendiri.
Pada bulan Januari 1949, Presiden AS, Harry S Truman, mengumumkan: ’kita harus meluncurkan program untuk memanfaatkan kemajuan sains kita dengan kemajuan industri yang ada untuk perbaikan dan pertumbuhan didaerah-daerah terbelakang.’ Dan apa hasilnya? Kita bisa lihat negara terbelakang mana yang sekarang sudah maju.
Dari dulu, dunia yang tak bertanggung jawab telah membutakan kita, memekakan telinga dan membentuk kita seperti yang mereka inginkan dan kita telah dikunci dalam korset baja, yang kuncinya dipegang oleh mereka yang tidak akan diberikan cuma-cuma. Dengan dalih organisasi internasional untuk kemakmuran negara miskin, sehingga kita hanya mampu sebagai penikmat apa yang mereka berikan dimana kenikmatan itu adalah selubung dari kenikmatan mereka. Alih-alih mengentaskan kemiskinan, tetapi kemiskinan makin menjadi.
Higtly Indebted Poor Countries Initiative (HIPC), pada tahun 1996 diluncurkan untuk mengurangi hutang negara-negara termiskin pada tingkat berkesinambungan. Sebagai kampanye intensif oleh Jubilee 2000, HIPC diperluas pada pertemuan puncak G-7 (negara-negara kaya) di Cologne pada tahun 1999, dengan janji pengurangan hutang sebesar 100 milyar dolar AS. Jumlah ini hanya sepertiga dari jumlah yang dianggap penting oleh Jubilee 2000. Tidak semua negara donor memenuhi janji mereka dan tingkat hutang ’berkesinambungan’ tidak terwujud. Malawi yang mempunyai hutang sebesar 2,9 milyar dolar AS, memenuhi syarat untuk pengurangan sebesar 950 juta dolar AS, namun jumlah hutang yang tersisa pun masih diluar kapasitas mereka untuk dapat dilunasi. Meskipun menderita krisis kelaparan maupun HIV/AIDS, malawi masih juga diharuskan melunasi 66 juta dolar AS per tahun, terutama pada negara-negara kaya, IMF, dan Bank Dunia.
(Jubilee Research, www.jubilee2000uk.org dalam
Kemiskinan Global karangan Jeremy Sebrook : 2006)
Dalam buku Kemiskinan Global karangan Jeremy Sebrook, mengatakan ”...kaum muda menjadi prajurit bayaran transnasional dalam kancah perang untuk memenangkan logo dan merk”.
Obsesi kaum muda pada emblem yang menunjukan kepemilikan seperti, pakaian, celana, aksesoris, telepon genggam dan lain sejenisnya. Mendorong mereka melakukan apapun untuk mendapatkan barang-barang itu tak peduli seberapa besar mereka mengelurkan materi untuk mendapatkan merk tersebut, hanya demi prestise dari orang lain. Dorongan yang dasyat dari media yang begitu kuat mempengaruhi diri kita sampai kita tak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah (yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar). Memutarbalikan fakta adalah keahlian mereka...
Sungguh ironi...., suatu bentukan yang luar biasa dari orang-orang diluar sana. Pemujaan konsumerisme terjadi diseantero dunia (terutama negara-negara dunia ketiga) tak terkecuali dalam jiwa orang Indonesia terutama para kaum muda.
Apakah kita hanya menggelengkan kepala akan hal ini..?
Apakah kita belum juga tersadarkan oleh kenyataan yang sebenarnya..?
Apakah kita tahu dampak yang ditimbulkannya..?
Kemiskinan... kemiskinan, keterpurukan.. dan kehancuran...!! (Sepanjang kita tidak sadar dan tidak berbuat apapun untuk memperbaiki kehidupan ini).
Jiwa muda yang kita miliki seharusnya menjadi pemicu untuk memperbaiki kehidupan, bukan hanya kritis yang sekedar melakukan kritis yang habis terkikis dengan jabatan yang melahirkan krisis, akantetapi kritis yang melakukan sesuatu.....!.
Dikatakanlah oleh dunia yang tak bertanggung jawab bahwa masa muda adalah masa keemasan, dimana masa keemasan itu patut dinikmati, dituruti keinginannya, bebas yang sebebas-bebasnya tanpa ikatan tuntutan makna kehidupan yang sebenarnya. Kekeritisan dan penglihatan jiwa muda kita, larut dalam dunia yang modern, maju dan kebarat-baratan yang perlu di ikuti agar tidak ketinggalan jaman dan tidak kampungan, yang mana semua itu telah disediakan demi kenikmatan kaum ”konsumerisme” yang notabene banyak terdapat dinegara-negara seperti kita.